Akar Agama Nusantara

Kapitayan

Perdebatan tentang agama asli Nusantara  sampai sekarang masih menyisakan pandangan yang tak  berujung. Ada pemikir menafsir, jauh sebelum Islam masuk, di Nusantara terdapat agama kuno yang disebut Kapitayan – yang secara keliru dipandang sejarawan Belanda sebagai Animisme dan Dinanisme. Ada juga yang berpendapat, sebelum ajaran agama samawi hadir di Nusantara leluhur kita sudah lama memiliki kesadaran spiritual yang tinggi. Mereka merasa bahwa keyakinan itu hanya untuk dipercaya dan ajarannya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,  dan tidak patut menjadi bahan perdebatan.  

Untuk menyimak bacaan tersebut, Tabloid Indiependen menyajikan hasil wawancara Fauzan al-Farisi di ruang virtualnya bersama Agus Sunyoto, sejarawan yang  sedang merilis buku karyanya ‘Wali Songo : Rekontruksi Sejarah yang Disingkirkan’.  Selain mengajar pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Negeri Malang, kiyai yang satu ini juga aktivis Lembaga Seniman Budayawan Indonesia – Lesbumi – organisasi kebudayaan Nahdlatul Ulama. Berikut penuturannya :

SEBENARNYA  AGAMA APA YANG ADA PERTAMA KALI BERKEMBANG DI NUSANTARA?

Agama yang paling awal berkembang di Nusantara adalah  Kapitayan. Sebuah kepercayaan yang memuja sesembahan utama yang disebut, “Sanghyang Taya” yang bermakna hampa atau kosong. Orang Jawa mendefinisikan Sanghyang Taya dalam satu kalimat, “tan kena kinaya ngapa” alias tidak bisa diapa-apakan keberadaannya. Untuk itu, supaya bisa disembah, Sanghyang Taya mempribadi dalam nama dan sifat yang disebut “Tu” atau “To”, yang bermakna “daya gaib”, yang bersifat adikodrati.

Dalam bahasa Jawa kuno, Sunda kuno juga Melayu kuno, kata “taya” artinya kosong atau hampa namun bukan berarti tidak ada. Ini adalah istilah yang digunakan  untuk mendefinisikan sesuatu yang tidak bisa didefinisikan, tan kena kinaya ngapa, sesuatu yang tidak bisa dilihat, juga tidak bisa diangan-angan seperti apapun. Ia ada tetapi tidak ada.

 

BAGAIMANA  DASAR PEMAHAMAN AJARAN TERSEBUT?

Dalam sistem ajaran Kapitayan yang begitu sederhana waktu itu, Sanghyang Taya  tidak bisa dikenali kecuali ketika muncul dalam bentuk kekuatan gaib yang disebut “Tu”. “Tu” adalah bahasan kuno yang artinya benang atau tali yang menjulur. “Tu” inilah yang dianggap sebagai kemungkinan pribadi Sanghyang Taya.

“Tu” kemudian diketahui mempunyai sifat utama yaitu sifat baik dan sifat tidak baik. Yang baik bersifat terang dan yang tidak baik begitu gelap namun dalam satu kesatuan. “Tu” yang baik disebut Tuhan, dan “Tu” yang tidak baik disebut Hantu.

“Tu” bisa didekati ketika dia muncul di dunia dalam sesuatu yang terdapat kata-kata ‘tu’. Seperti wa-tu, tu-gu, tu-nggak, tu-nggul, tu-ban, dan sebagainya, yang menyiratkan adanya kekuatan ghaib dari “tu” yang bersemayam. Biasanya orang-orang memberikan sesajen. Ini jaman purba sekali.

DALAM MENYEBARKAN AGAMA ISLAM APAKAH WALISONGO MENGADOPSI KAPITAYAN?

Memang Kapitayan ini diadopsi oleh Wali Songo untuk menyebarkan Islam. Karena selama  850 tahun Islam tidak bisa masuk pada kalangan pribumi yang mayoritas penganut Kapitayan.  Karena apa? Karena  para saudagar muslim  menceritakan bahwa Allah itu duduk di atas singgasana bernama Arsy. Lho, itu kan seperti manusia?. Orang-orang pribumi yang memahami Kapitayan tidak bisa menerima logika seperti itu. Bagaimana Tuhan duduk,  itu kan sama seperti manusia?

 

LALU PRINSIP AJARANNYA BAGAIMANA ?

Dalam ajaran Kapitayan tidak mengenal dewa-dewa seperti Hindu dan Budha. Nah, pada jaman Wali Songo, prinsip dasar Kapitayan dijadikan sarana untuk berdakwah dengan menjelaskan kepada masyarakat bahwa  Sanghyang Taya adalah laisa kamitslihî syai’un, berdasarkan dalil al-Quran dan Hadis yang artinya sama dengan tan kena kinaya ngapa,  sesuatu yang tidak bisa dilihat, juga tidak bisa diangan-angan seperti apapun.

Wali Songo juga menggunakan istilah ‘sembahiyang’  dan tidak memakai istilah shalat. Sembahiyang adalah menyembah ‘Yang’. Di mana? Di sanggar. Tapi, bentuk sanggar Kapitayan kemudian diubah menjadi seperti langgar-langgar di desa yang ada mihrabnya.  Dilengkapi bedhug, ini pun  adopsi Kapitayan. Tentang ajaran ibadah tidak makan tidak minum dari pagi hingga sore tidak diistilahkan dengan ‘shaum’ karena masyarakat tidak ngerti tapi  menggunakan istilah ‘upawasa’ kemudian menjadi puasa.

Orang-orang dahulu jika ingin masuk Islam cukup mengucapkan syahadat, setelah itu selamatan pakai tumpeng. Jadi, Kapitayan selalu menyeleksi atas semua yang masuk. Jangan harap bisa diterima oleh Kapitayan bila ada agama yang Tuhannya berwujud seperti manusia. Karena, alam bawah sadar mayoritas masyarakat Nusantara akan menolak.

Hindu pun ketika masuk ke Nusantara juga diseleksi. Ajaran Hindu yang paling banyak pengikutnya waktu itu adalah Waisnawa, pemuja Wisnu.  Namun karena terdapat ajaran yang menyatakan  bahwa Wisnu bisa muncul dalam sosok manusia akhirnya ajaran itu habis tergusur, digantikan ajaran Siwa yang  berpandangan bahwa Tuhan tidak bisa mewujud sebagaimana manusia.

MENURUT PERSEPSI ANDA, APA YANG DISEBUT KEJAWEN?

Kata Kejawen secara gramatika kebahasaan saja sudah salah. Dalam bahasa Jawa, tidak ada

kata Kejawen. Sebetulnya Kejawen diberikan kepada kelompok hasil reformasi yang dilakukan oleh Syaikh Lemah Abang di daerah pedalaman. Reformasi dari masyarakat “kawulo” yang artinya budak menjadi masyarakat  merdeka sehingga menimbulkan konflik dengan Kesultanan Demak.

Syaikh Lemah Abang  membentuk banyak sekali Desa Lemah Abang, dari daerah Banten sampai daerah ujung timur Jawa. Para pengikut Syaikh Lemah Abang umumnya menentang tradisi Kesultanan Demak.

Dalam buku Negara Kerta Bumi disebutkan bahwa Syaikh Lemah Abang pernah tinggal di Baghdad selama tujuh belas tahun. Oleh karena itu, pemahaman dia terhadap sistem kekuasaan banyak terpengaruh oleh sistem kekuasaan di Baghdad.

Ketika balik ke Nusantara, dia melihat realita Kesultanan Demak  yang masih meneruskan pola kekuasaan Majapahit. Jika ada masyarakat yang akan menghadap sultan atau raja diharuskan nyembah dulu yang  oleh Syaikh Lemah Abang dianggap tidak benar. Sebab ketika Syaikh Lemah Abang  menghadap sultan maupun raja, dia tetap dengan posisi berdiri, tidak nyembah, dan sejak itu dia melarang masyarakat menyembah jika menghadap sultan.

PEMBELAJARAN APA SAJA YANG DILAKUKAN LEMAH ABANG?

Pada waktu sistem kekuasan di Jawa itu absolut,  raja atau sultan adalah titisan Dewa atau Tuhan kemudian itu direduksi oleh Syaikh Lemah Abang dengan ajaran Manunggaling Kawula Gusti.  Saat itu kata-kata “ingsun” atau “aku” adalah hak prerogratif sultan atau raja. Masyarakat tidak boleh menggunakan kata ganti diri “aku” atau “ingsun”, masyarakat harus menggunakan “Kulo” atau “Kawulo”. Orang Sunda menyebut kata ganti dirinya dengan sebutan “Abdi” yang artinya budak, tidak punya hak apapun. Orang-orang Sumatra mengatakan kata ganti dirinya dengan “Sahaya” atau “Saya” yang artinya juga budak.

Dari sini, Syaikh Lemah Abang menyeru, agar semua pengikutnya menggunakan kata ganti ‘ingsun’ dan tidak boleh nyembah ketika menghadap raja. Dia juga memerintahkan masyarakat agar tidak membayar pajak karena kondisi kehidupan mereka  susah payah. Saat itu sistem perpajakan di Jawa begitu menekan.  Orang miskin yang tidak punya rumah pun diwajibkan membayar pajak.

DENGAN KONDISI SUSAH SEPERTI ITU BAGAIMANA BENTUK PAJAKNYA?

Bagi yang  tidak mempunyai uang bentuk penggantian pajaknya adalah melakukan ‘kemit’ yaitu menjaga rumah pejabat atau membabat rumput di alun-alun. Menyaksikan hal itu Lemah Abang menyebut tindakan itu adalah eksploitasi manusia terhadap manusia. Karena itu dia memerintahkan pengikutnya untuk tidak membayar pajak, sebab Islam tidak pernah mengajarkan untuk membayar pajak kecuali infak, zakat dan wakaf. Atas keberaniannya itu Syaikh Lemah Abang dibunuh.

Pasca peristiwa tersebut  muncullah stigma terhadap pengikut Syaikh Lemah Abang  sebagai  orang-orang ‘Abangan’. Dari kata Abangan itulah lalu berkembang menjadi aliran-aliran yang disebut Kejawen. Orang-orang Abangan dianggap sebagai pemberontak yang tidak mematuhi tatakrama.

BAGAIMANA EKSISTENSI KEJAWEN SEKARANG?

Sebutan Kejawen seharusnya diberikan pada  pondok pesantren. Karena apa? Karena yang mempertahankan budaya dan tradisi Jawa adalah pesantren. Seperti sistem belajar mengajarnya, bahasa pengantar yang digunakan kyai bukannya bahasa Inggris atau  Indonesia tetapi bahasa Jawa. Juga ketika berkomunikasi dengan santri pun  kyai berbahasa  Jawa, sebaliknya juga begitu.

Pada jamannya Kyai Hasyim Asyari, kemampuan berbahasa Jawanya begitu bagus, begitu juga yang berkembang di lingkungan Pesantren Lirboyo, dan lainnya. Tapi karena nama Lirboyo  diganti dengan sebutan Hidayatul Mubtadiin, masyarakat malah tidak mengenal pesantren legendaris itu.

Sementara kitab-kitab klasik yang diajarkan adalah ‘Bilughatil-Jawî’ yang menggunakan  huruf ‘pego’  dengan penuturan  bahasa Jawa yang mana orang Arab tidak mungkin bisa membaca apalagi memahami. Saya pun mempunyai kitab Tafsir Jalalain terbitan Darul Fikr Beirut Lebanon yang dilengkapi dengan penuturan bahasa  Jawa, padahal bukan terbitan Indonesia.

 

DARI PERENUNGAN ANDA, APA YANG PATUT DILAKUKAN OLEH KIYAI SEKARANG?

Seharusnya para ulama Indonesia menulis sejarah Nusantara karena akan bermakna bagi keselamatan  masyarakat. Perlu kita cermati, sebenarnya kitab-kitab yang dipegang oleh komunitas Kejawen adalah kitab karangan Wali Songo. Seperti kitab Suluk Mujil yang ditulis oleh Sunan Bonang, dan Suluk Linglung karya Sunan Kalijaga. Ada juga kitab Serat Wirid karangan Ronggowarsito. Sebagai muslim Ronggowarsito mempelajari  kitab kuning karena klasik tersebut menggunakan tulisan Jawa, namun karena itu ada yang mengira dia bukan santri. Padahal Roggowarsito seorang santri yang cerdas yang menjadi pujangga terakhir tanah Jawa. Dengan karya bukunya mereka mewariskan ilmu secara abadi.

 

(Baru saja Agus Sunyoto merilis buku baru berjudul ‘Wali Songo : Rekontruksi Sejarah Yang Disingkirkan’.  Mengulas tentang kehadiran Wali Songo dalam panggung sejarah penyebaran Islam di tanah Jawa yang tidak bisa dipandang oleh sebelah mata. Keberadaannya membangun kesadaran pentingnya dakwah Islam secara moderat, tanpa meningggalkan nilai-nilai yang menjadi pokok ajaran Islam dan akulturatif. Wali Songo layak menyandang gelar tokoh sejarah, yang bukan hanya sebagai pelengkap sejarah Jawa, melainkan juga pelaku sejarah yang aktif dan bergumul dengan masyarakat. Selama ini sejarah selalu ditulis dari versi penguasa, dengan penokohan raja yang heroik. Penulisan sejarah seperti ini telah menihilkan kekuatan sosial-kebudayaan masyarakat yang sebetulnya punya peran penting.)

● ROKIMDAKAS

Tidak ada artikel terkait.


Baca juga:

  • Tanah Untuk Rakyat
  • Runtuhnya Majapahit
  • Bung Karno dan Pemfosilan Pikiran-Pikiran Sukarno (Bagian ketiga)

Tulis komentar





One Trackback/Ping